Soal Seragam Sekolah Mahal, Pengamat: “Itu Pungli Berkedok Koperasi”

Soal Seragam Sekolah Mahal, Pengamat: “Itu Pungli Berkedok Koperasi”

Kabupaten Bandung,

Terkait penjualan seragam sekolah yang dinilai harganya mahal, hal ini jelas menyalahi peraturan, yaitu Permendikbud nomor 44 tahun 2012 itu jelas bahwa satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh pemerintah itu tidak boleh melakukan pungutan.

Namun pada kenyataannya, pihak sekolah tidak kehabisan akal dengan mengatasnamakan koperasi untuk melakukan pungutan dengan dalih kebutuhan sekolah.

“Tetapi pada kenyataannya dilapangan, banyak oknum yang tetap tidak kehabisan akal intinya adalah sebenarnya tujuannya melakukan pungutan dengan menjual buku jual seragam melalui koperasi di sekolah,” kata Pengamat Kebijakan Publik Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Adib Miftahul.

Selain itu, Adib juga mengatakan bahwa koperasi yang ada di sekolah-sekolah kebanyakan koperasi ilegal atau bodong.

“Ironisnya koperasi yang ada di sekolah-sekolah kadang koperasi bodong atau koperasi yang tidak punya izin. Hal ini hanya untuk digunakan sebagai labeling bahwa pihak sekolah merasa tidak melakukan pungutan,” jelasnya.

Kemudian dengan hal tersebut, yang sangat dirugikan adalah pihak orang tua siswa. Karena setiap tahun ajaran baru akan selalu berlaku hal-hal pungutan seperti ini. Mulai dari seragam, buku dan lainnya.

“Ketika tahun ajaran baru siswa diwajibkan untuk membeli apa yang sudah menjadi ketentuan pihak sekolah, makanya saya kira inilah sebenarnya oknum-oknum yang harus ditindak tegas oleh inspektorat. Periksa semua ijin koperasinya, dan juga evaluasi semua sekolah agar hal seperti ini tidak terjadi terus-menerus setiap tahunnya,” tegas Adib Miftahul.

Sementara itu, Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan geram dan akan memanggil Kepala Dinas Pendidikan serta Kepala Sekolah yang mematok harga seragam mahal di tengah pandemi covid 19.

Menurutnya hal ini sangat tidak manusiawi, mengingat perekonomian selama pandemi covid 19 sangat menurun. Kemudian dengan diberlakukannya sekolah tatap muka, pihak sekolah jangan asal mencari keuntungan dengan berbagai cara.

“Saya sangat miris, dan saya akan panggil Kepala Dinas Pendidikan serta kepala sekolah yang mematok harga seragam sampai Rp 1 juta. Ini sangat tidak manusiawi, karena semua juga memahami perekonomian selama pandemi terus menurun,” katanya kepada suarabandungnews.com.

Seperti yang terjadi di SMPN 1 Ciparay yang membebankan seragam sekolah sampai dengan harga Rp 1 juta. Dan ini jelas membuat orang tua siswa sangat keberatan, di tengah pandemi yang masih berlangsung.

Salah satu orang tua siswa SMPN 1 Ciparay yaitu NH yang hanya bekerja sebagai buruh tani sangat keberatan dengan mahalnya harga seragam yang dibebankan.

“Saya sangat keberatan dengan harga seragam sekolah sampai dengan Rp 1 juta. Karena dalam kondisi seperti ini saya harus bagaimana?,” Katanya kepada suarabandungnews.com.

Hal serupa di alami AM orang tua siswa SMPN 1 Pacet Kabupaten Bandung Jawa Barat, dirinya sangat keberatan dengan adanya pembelian seragam merasa berat kondisi yang tidak memungkinkan terkait kondisi yang serba susah. (Tm/Sly)

%d bloggers like this: